Bangka Belitung l HukumKriminal – Maraknya beredar berita seputar penambangan timah di Bangka Belitung. Saksi sejarah pertambangan Elly Rebuin angkat bicara, Jum’at (01/10/2021).
“Selama dua tahun terakhir ini timah dikuasai oleh segelintir perusahaan pertambangan yang ada di Bangka Belitung. Harga timah cenderung stagnad dikisaran harga kurang lebih Rp70.000/kg atau Rp 120.000 hingga Rp150.000/Sn,” ucapnya yang memiliki nama lengkap Elliagustina Rebuin.
Srikandi Bangka Belitung ini sempat bertemu dengan salah satu buyer dari Eroupa. Para buyer tahu bahwa perusahaan harus membayar hutang pasir timah ditingkat penambang.
Selama dua tahun ini pertimahan terindikasi cenderung monopoli. penghentian izin eksport dikalangan perusahaan swasta menyebabkan harga timah dari Rp200.00/Sn mengalami penurunan hingga diharga Rp120.000/Sn.
Tahun 2021 izin eksport swasta dibuka kembali dan terlihat harga pasir timah atau biji timah merangkak naik dan akan terus meningkat.
Timah menjadi barang yang sexy dan bernilai ekonomi tinggi.
Dunia saat ini dihantam oleh pandemic covid 19 sehingga seluruh sektor kehidupan mengalami kemunduran khusus ekonomi secara global dan khususnya di Bangka Belitung.
Mengingat kondisi pandemic maka dihimbau kita masyarakat Babel harus sepakat mempertahankan swasta tetap eksport dan harga timah saat ini sangat sexy dan tertinggi sejak 1819 harga timah yang ada yaitu di harga Rp350.000/Sn.
Kompetitor dalam dunia usaha sangat kita perlukan dan multiplayer efek akan berimbas pada perekonomian Bangka Belitung (berdasarkan data BPS tercatat sektor tambang masih menembus 80% penyumbang Pendapatan Anggran Daerah.
Hukum rimba dengan hadirnya kompetitor menimbulkan konflik horizontal maupun vertikal.
Kekompakan di masyarakat adalah kunci sukses dan kontrol dalam pelaksanaan total mining dan good mining.
Sejak dulu kita sudah menyediakan perangkat dan elemen agar sinergisitas sektor ini berjalan baik dan meminimalkan kerusakan lingkungan akibat pertambangan.
Hal ini menjadi dasar terbentuknya organisasi yang memiliki legalitas dan history pertambangan timah di Bangka Belitung seperti:
ASTIRA (ASOSIASI TAMBANG RAKYAT),
ASTRADA (ASOIASI TAMBANG RAKYAT DAERAH), AITI (ASOSIASI INDUSTRI TIMAH INDONESIA), ITA (INDINESIA TIN ASOSIASI), ATI (ASOSIASI TIMAH INDONESIA).
Hal ini kita bentuk untuk menghindari premanisme, kadalisasi
Neo Voc usai terjadinya Revolusi Rakyat 6 oktober 2006.
Bangka Belitung akhirnya menjadi barometer pertambangan rakyat di Indonesia.
“Menyikapi asosiasi yang baru baru ini viral menjadi isu yang hangat dikalangan pertambangan di Bangka Belitung, melihat dan memperjari jejak rekam mereka yang bagaikan baru datang dari utusan Langit, membuat resah dan gelisah disebagian masyarakat dan berharap ini segera diredam dan diatasi agar tidak terjadi konflik horizontal,” tutur Elly.
Kemudian.”Saya menghadiri pertemuan yang telah berkali-kali oleh para pekerja tambang untuk mengkondisikan tambang rakyat kelas TI selam, atau lainnya yang tidak bisa dilegalkan sesuai peraturan yang ada,” imbuhnya.
“Sejarah membuktikan akan selalu hadir sosok sosok yang berjiwa pengkianat ditengah masyarakat.
Mata batin mereka sudah disisipi oleh kerakusan tanpa menimbang dan menghargai usaha kelompok yang berjuang sejak awal agar mereka dilindungi dan di tata kelolah yang baik,” ungkap Elly dengan nada tinggi.
Oknum-oknum opertunis yang sengaja membuat ricuh ini, tidak pernah berpikir dan menghargai jeritan pilu penambang kecil yang mereka lontarkan.
“Lebih baik kami mati menyelam daripada anak bini kami kelaparan”.
“Semoga ada rasa kearifan lokal kita yang bisa menyentuh hati nurani para oknum opertunis ini. Melihat jejak rekam mereka yang telah melakukan one prestasi kepada beberapa masyarakat daerah yang terpapar langsung oleh kegiatan ini dengan tidak memenuhi janji dan kesepakatan yang ada,” tutupnya. (Tim Sembilan)